2/23/16

Indonesia di Sirkus Jet Darat: Peluang, Tantangan, dan Harapan

Seminggu terakhir, dunia olahraga Indonesia kembali gempar. Untungnya dengan kabar baik. Apalagi kalau bukan tentang masuknya Rio Haryanto ke balap jet darat nan prestisius, yaitu Formula Satu.
Logo Formula Satu (en.wikipedia.org)
Kabar mengenai Rio menuju Formula Satu sebenarnya sudah hangat dibicarakan sejak akhir 2015. Rio menjadi satu diantara banyak kandidat pebalap lainnya untuk mengisi salah satu dari dua kursi yang ada di Manor Racing. Rio pun sibuk mencari dukungan finansial kesana kemari, ke pihak swasta maupun pemerintah.

Puncaknya, pada tanggal 11 Desember 2015 Kemenpora mengeluarkan surat jaminan untuk mensukseskan upaya Rio masuk ke F1 untuk Manor.


Surat Jaminan Kemenpora, 11 Desember 2015. (images.harianjogja.com)
Beberapa nama di bursa pebalap potensial Manor saat itu adalah Pascal Wehrlein, Alexander Rossi, Will Stevens, bahkan Pastor Maldonado. Pascal Wehrlein tentunya dianggap potensial karena dia adalah development driver dari Mercedes, yang tahun ini menjadi penyuplai mesin untuk Manor, menggantikan Ferrari. Pascal adalah pebalap yang dijagokan media dan para pengamat untuk mengamankan kursi di Manor. Ini terbukti di 10 Februari 2016, dimana Manor menyatakan akan mengontrak si juara DTM secara permanen untuk musim balap 2016.


Pascal Wehrlein saat menjadi test driver di Mercedes AMG F1 (www.pascal-wehrlein.de)
Alexander Rossi, yang saya akui skill-nya lebih bagus dari Rio, juga menjadi buah bibir akan mengisi kursi Manor tahun 2016. Performanya bersama Manor di 2015 bisa dibilang lebih dari cukup karena bisa mengungguli rekan setimnya padahal Rossi baru bergabung di GP Italia.


Alexander Rossi, bintang baru balap Amerika (blackflag.jalopnik.com)
Rio sendiri bukan orang baru di lingkungan Manor. Saat masih bernama Virgin Racing, pada tahun 2010 Rio berhasil menjadi orang Indonesia pertama yang mengetes mobil F1 secara resmi. Lalu, di tahun 2012 saat namanya sudah berganti menjadi Marussia, Rio kembali menjajal mobil F1. Kali ini di F1 Young Driver Test yang diadakan di Silverstone, dan Rio berhasil menjalani tes selama 300 km dan berhak menjadi orang Indonesia pertama yang mempunyai superlicence.

Dibanding pesaingnya, jelas Rio bisa dibilang sebenarnya bukan calon yang cukup kuat. Namun, mengapa Manor dan Force India sampai berani menawarkan salah satu kursinya kepada pembalap dari sebuah negara yang prestasi motorsport-nya hampir jarang terdengar di pentas dunia? Salah satu faktornya adalah performa Rio yang cukup gemilang di GP2 bersama Campos Racing. Di tahun keempatnya di GP2, Rio berhasil menjuarai 3 sprint race dan menduduki peringkat 4 di klasemen akhir.

Performanya yang bagus ini membuat mereka tertarik untuk menggunakan jasa Rio untuk musim 2016. Lantas, mengapa Rio tidak masuk Force India saja, yang notabene adalah tim papan tengah?

Rintangan terbesarnya adalah finansial. Force India meminta bayaran sebesar 25 juta Euro untuk Rio bisa tampil bersama mereka. Jauh lebih besar daripada yang ditawarkan Manor, sebesar 15 juta Euro saja.

Lho, kok Rio malah harus bayar?

Praktek ini dinamakan dengan pay driver, dimana si pebalap yang ingin berlaga di Formula Satu dengan sebuah tim harus membayar sejumlah uang. Tim yang biasanya melakukan praktek ini adalah tim papan bawah dan menengah, yang memang agak kesulitan dalam mendanai aksinya di sirkus jet darat yang terkenal mahal ini. Beberapa pembalap besar pun sempat melakukan praktek ini, contohnya Fernando Alonso & Mark Webber.

Akhir-akhir ini, praktek pay driver makin marak terjadi di Formula Satu. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari makin besarnya biaya operasional selama semusim hingga masalah kesenjangan pembagian uang hadiah yang lebih dari 50 persen hanya dinikmati oleh tim besar.

Bukan rahasia, sirkus Formula Satu adalah ajang balap yang sangat mahal dan prestisius. Tercatat, 2 pabrikan otomotif besar asal Jepang yaitu Toyota dan Honda yang pernah berkompetisi di ajang ini akhirnya menyerah. Walaupun begitu, Honda akhirnya comeback ke Formula Satu mulai 2015, bekerjasama dengan McLaren walaupun hasilnya belum terlihat memuaskan.

Kembali ke Rio, pada awal tahun 2016 Manor terlihat sangat bernafsu untuk segera meresmikan status Rio sebagai pebalapnya di musim 2016. Ini terlihat dari Manor yang sampai mengutus salah satu anggotanya untuk terbang ke Indonesia untuk menemui Menpora dan Rio secara pribadi, meminta kejelasan dan keseriusan Menpora untuk mendukung Rio ke F1.

Polemik mulai timbul saat Menpora berencana (ingat, baru berencana) untuk memakai dana APBN sebesar 100 miliar Rupiah untuk membuka jalan Rio ke Formula Satu. Pro dan kontra terjadi disana-sini. Yang pro berpendapat ini kesempatan emas untuk membuat nama Indonesia harum, sedangkan yang kontra berpendapat dana itu terlalu besar dan lebih baik disalurkan ke program pemerintah lainnya.

Saya bukan ahli hukum tata negara, namun saya sebagai pembayar pajak lebih senang uang saya dipakai untuk membiayai Rio menuju Formula Satu, daripada dipakai untuk mendanai proyek pemerintah yang lebih potensial menjadi ladang korupsi.

Syukurlah, pada 18 Februari 2016 Manor akhirnya mengumumkan Rio Haryanto sebagai salah satu pebalapnya untuk musim 2016. Ini juga otomatis membuat Rio Haryanto sebagai pebalap Formula Satu pertama dari Indonesia, dan ketiga dari Asia Tenggara.

Tentu saja, ini adalah prestasi anak bangsa yang harus mendapat apresiasi dari seluruh masyarakat Indonesia.

Penunjukan Rio sebagai pebalap Manor pun menimbulkan kontroversi di dunia balap internasional, karena mematahkan anggapan media yang menjagokan Alexander Rossi untuk mengamankan kursi kedua Manor. Banyak yang mengkritisi Rio masuk Manor karena uang, bukan karena kemampuan. Ada yang mempermasalahkan superlicence point Rio yang masih belum cukup untuk masuk F1. Namun, banyak pihak pula yang mendukung Rio di ajang Formula Satu. Dukungan tidak hanya mengalir dari dalam negeri, dari luar negeri pun banyak yang mendukung langkah Rio di Formula Satu. Terutama dari benua Asia, karena Rio menjadi satu-satunya wakil Asia di Formula Satu tahun ini. 

Lantas, apa yang bisa kira-kira Indonesia harapkan dari tampilnya Rio di ajang Formula Satu? Tentu saja, yang utama adalah meningkatnya awareness masyarakat dunia terhadap posisi Indonesia. Di Formula Satu sendiri, Indonesia sudah pasti kalah pamor dari Malaysia dan Singapura yang sudah lebih dulu mempunyai balapan F1-nya sendiri.

Tentu saja, kesempatan ini lebih afdol apabila Indonesia juga mempunyai balapan F1 di wilayahnya. Malaysia pernah memakai strategi serupa untuk mempromosikan pariwisata negaranya dengan mendukung Alex Yoong di F1. Hasilnya, walaupun Alex Yoong performanya pun tidak cukup signifikan di F1 namun angka kunjungan pariwisata ke Malaysia terus meningkat. Momen inilah yang sebenarnya bisa dimanfaatkan Kemenparekraf untuk mempromosikan program "Pesona Indonesia"-nya. Dengan cakupan sirkus F1 yang ada di seluruh dunia dan disiarkan di lebih dari 50 negara di dunia, audiens yang bisa dicapai oleh Kemenparekraf pun bisa lebih lebar. Jangan sampai kesempatan emas ini kembali jatuh ke negara tetangga yang sedang gencar-gencarnya pula mempromosikan wisata minat khususnya, terutama wisata olahraga.

Rio pun harus membuktikan kepercayaan yang sudah diberikan dengan prestasi. Tapi, mohon jangan langsung berharap Indonesia Raya bisa langsung berkumandang di podium. Menurut saya, bisa konsisten finish di papan tengah adalah prestasi tersendiri untuk Rio. Ya, MRT05 memang mendapat suplai mesin dari Mercedes serta beberapa performance package dari Williams, seharusnya itu bisa menjadi keuntungan tersendiri untuk Rio. Apabila bisa finish di posisi 10 besar, tentunya itu nantinya akan menjadi booster tersendiri untuk kelangsungan karir Rio di F1 nantinya.


Manor MRT05, mobil yang akan digunakan Rio di 2016. (formula1.com)
Sejauh ini, performa Rio mengendarai MRT05 masih menampakkan progress yang menggembirakan. Di sesi tes pra-musim di Barcelona, pace Rio dan Pascal masih sebanding, walau Pascal beberapa kali mencatat waktu lebih cepat dari Rio. 

Perbandingan lap times Rio dan Pascal di winter test. (juara.net)
Perlu dicatat, terutama untuk para fans yang #MendadakF1, bahwa catatan waktu di winter test tidak bisa langsung menggambarkan keseluruhan season kedepannya. Pembalap dengan lap times cepat belum tentu akan jadi juara. Banyak variabel yang diuji di sesi winter test, seperti reliabilitas mesin, aerodinamika mobil, dan juga pemilihan ban.

Adapun sangkaan bahwa Manor menyabotase mobil Rio sehingga selalu terjadi gangguan pun tidak beralasan. Justru lebih baik gangguan teknis tersebut terjadi di winter test daripada saat musim sudah berlangsung. Media pun terlalu membesarkan berita dengan menyebut Rio mengalami kecelakaan saat Rio dua kali melintir di winter test pertama.

Seri Australia pada tanggal 18-20 Maret mendatang tentunya akan menjadi seri yang ditunggu-tunggu bagi para penggemar sirkus jet darat di dunia, apalagi Indonesia. Saya pribadi tidak akan menuntut Rio untuk langsung bisa merangsek ke papan tengah. Bahkan, bisa finish dan tidak di-overlap sekalipun adalah pencapaian tersendiri yang patut diapresiasi. Level persaingan di GP2 dan F1 tentunya akan sangat jauh berbeda.

Tons of luck, Rio! Kami, penggemar F1 Indonesia, akan selalu mendukungmu!


Rio Haryanto, saat konferensi pers debutnya menuju Formula Satu.
*KL*

Tulisan sebelumnya mengenai Rio: Rio Haryanto, The Most Potential Indonesian Young Driver